Sejarah Kepemimpinan Pangkalpinang Dibuka Kembali Lewat Lomba Biografi
PANGKALPINANG, DISKOMINFO – Pemerintah Kota Pangkalpinang mulai menggali kembali sejarah kepemimpinan daerah melalui Lomba Menulis Biografi Wali Kota.
Lomba yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Pangkalpinang ini secara khusus mengangkat perjalanan delapan tokoh yang pernah memimpin Pangkalpinang pada periode 1956 hingga 1978.
Kepala Bidang Kebudayaan Dindikbud Kota Pangkalpinang, Ratna Purnama Sari mengatakan, kegiatan ini digelar karena masih minimnya informasi mengenai sejumlah pemimpin daerah, terutama dari periode tersebut.
“Episode pertama ini sengaja kami mulai dari delapan tokoh kepemimpinan periode 1956 sampai 1978. Mereka adalah Raden Supardi Suwarjo, Raden Abdullah, Ahmad Basirun, Raden Hundani, Rustam Effendi, H. Masdan, M. Saleh Zainuddin, dan Roesli Romli,” ujar Ratna, Kamis (24/9/2026).
Menurutnya, lomba tersebut menjadi salah satu cara untuk membantu pemerintah menghimpun kembali informasi tentang para pemimpin Pangkalpinang yang selama ini belum terdokumentasi secara utuh.
Apalagi, dalam proses penelusuran, tim maupun peserta akan menghadapi keterbatasan arsip dan dokumentasi lama.
“Melalui karya tulis ini, peserta secara tidak langsung membantu pemerintah melengkapi data sejarah yang selama ini sulit didapatkan,” katanya.
Lomba mengangkat tema “Menelusuri Sejarah Kepemimpinan Walikota Pangkalpinang dari Masa ke Masa.”
Tidak hanya sekadar menulis riwayat hidup, peserta diminta menggali perjalanan tokoh secara lebih mendalam. Mulai dari masa kecil, keluarga, pendidikan, perjalanan sebelum menjadi pemimpin, masa kepemimpinan, tokoh yang berpengaruh, karakter hingga kehidupan setelah tidak lagi menjabat.
Peserta juga diwajibkan melakukan wawancara dengan narasumber yang mengetahui perjalanan kepemimpinan tokoh yang ditulis.
Ratna mengatakan, hasil lomba nantinya diharapkan tidak berhenti sebagai karya kompetisi. Tulisan yang dinilai layak dapat menjadi bagian dari dokumentasi sejarah sekaligus bahan literasi dan pendidikan karakter di sekolah.
“Perlombaan ini juga bersifat berkelanjutan. Setelah episode pertama, nantinya akan dilanjutkan dengan periode kepemimpinan berikutnya,” ujarnya.
Untuk ketentuannya, peserta wajib membuat naskah minimal 50 halaman menggunakan kertas A4 dan huruf Arial ukuran 12. Tulisan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Sumber penulisan dapat berasal dari hasil wawancara, media massa, kliping maupun dokumen resmi negara. Panitia juga menetapkan peserta tidak diperbolehkan menggunakan AI dalam penyusunan naskah.
Lomba dapat diikuti masyarakat, akademisi maupun pegiat sejarah secara berkelompok dengan jumlah minimal empat orang. Naskah dikirim dalam bentuk soft file melalui Google Drive.
Pendaftaran dan seleksi berlangsung hingga 13 Oktober 2026. Sementara pengumuman pemenang dijadwalkan pada 17 Oktober 2026 pukul 21.00 WIB di panggung Taman Wilhelmina Park.
Pemenang akan mendapatkan hadiah uang tunai, piala dan sertifikat. Penilaian dilakukan oleh tiga juri, yakni sejarawan dan budayawan Babel Dato’ Akhmad Elvian, DPMP., E.C.H., praktisi sastra dan pelestari tradisi lisan Babel Ichsan Mokoginta, serta sastrawan Babel Hazirianjaya atau Ian Sancin.
Ratna berharap masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk ikut menggali sejarah Pangkalpinang.
Sebab, menurutnya, informasi mengenai perjalanan para pemimpin daerah penting untuk diketahui dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Mudah-mudahan melalui kegiatan ini sejarah kepemimpinan Kota Pangkalpinang bisa semakin lengkap dan dapat menjadi pengetahuan bagi generasi selanjutnya,” tutupnya.
Editor : Ira/Dedy