City of Thousand Smiles

Cerita Penyintas Covid-19, Jadikan Protokol Kesehatan Gaya Hidup

0

Pangkalpinang, Diskominfo – Icha Atmadi beserta suami dan ayahnya dinyatakan positif Covid-19 pada pertengahan Agustus lalu. Ayah Icha mengalami gejala yang terbilang berat sehingga harus dirawat di rumah sakit. Sementara Icha dan suaminya disarankan untuk melakukan isolasi mandiri.

 

Dia tidak menyangka akan terkena Covid-19 karena ia dan keluarganya termasuk protektif dan disiplin melakukan protokol kesehatan. Pengalaman ini membuat Icha merasa pada titik terendah yang membuatnya lebih menjadi intropeksi diri dalam menjaga hati dan fisik. Bagi dia, gejala ringan saja mengerikan, apalagi ampai gejala berat.

 

“Sampai dinyatakan sembuh, perlu waktu hampir satu bulan buat saya dan suami melakukan isolasi mandiri. Sedangkan ayah harus menjalani perawatan di rumah sakit selama satu bulan, dan total 45 hari sampai dinyatakan sembuh,” tutur Icha dalam Dialog Produktif dengan tema ‘Memaksimalkan Pengelolaan Kesehatan Lewat Vaksinasi’ pada Kamis (26/11) yang diselenggarakan di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

 

Diakuinya, penderitaan sebagai penyintas Covid-19 tidak hanya secara fisik, tetapi juga psikis. Persoalan juga bertambah dengan biaya prngobatan yang terbilang tidak murah. Menurut Icha, jika dihitung, biaya perawatan ayahnya selama di rumah sakit bisa menyentuh angka Rp 100 juta. Beruntung, seluruh biaya perawatan itu ditanggung oleh pemerintah.

 

Selain itu, pemerintah setempat sangat bertanggung jawab setelah dia melaporkan ke RT/RW terkait kondisi yang dialaminya dan keluarga.

 

Setelah kejadian itu, keluarga Icha melakukan protokol kesehatan lebih ketat dan menjadikannya gaya hidup. Icha berpesan kepada masyarakat untuk menjaga kesehatan dan melakuka protokol kesehatan.

 

”Tolong jaga kesehatan karena kalau sudah sakit itu lebih susah lagi perjuangannya,” ucapnya.

 

Dia menyebut, masyarakat yang mulai merasa ada gejala harap diperiksa ke fasilitas kesehatan. Pemerikaan, cepat atau lambat akan sangat berpengaruh pada proses penyembuhan. Icha menuturkan, jangan menunggu sakit parah baru diperiksa dan dibawa ke rumah sakit.

 

Cerita yang sama juga pernah dibagikan Twindy Rarasati, yang berprofesi sebagai dokter dan berada di garda terdepan penanganan Covid-19.

Twindy mengatakan, tanpa ada gejala langsung mengalami gejala sesak nafas. Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, dia dinyatakan positif COVID-19. Twindy pun langsung merasakan sakit kepala, kelelahan, hilangnya indera penciuman dan pengecapan. Tapi tidak mengalami demam atau batuk. Menurutnya, ada banyak sekali gejala yang dapat timbul ketika terinfeksi virus Corona. Karena itu penting untuk selalu memperhatikan perubahan yang terjadi pada tubuh.

 

“Saya sempat dirawat di rumah sakit selama dua minggu dan lanjut isolasi mandiri dua minggu lagi. Baru kemudian dinyatakan sembuh dan bisa kembali bekerja,” ujar Twindy.

 

Berdasarkan pengalamannya sebagai penyintas, Twindy mengungkapkan bahwa protokol kesehatan harus sebaik-baiknya dilakukan. Dia menuturkan, tanggung jawab menjalankan protokol kesehatan ada pada sendiri dan harus selalu memperbaharui ilmu agar dapat mengetahui apa yang harus dilakukan berikutnya. Menurutnya, ada banyak sekali gejala yang dapat timbul ketika terinfeksi virus Corona, karena itu penting untuk selalu memperhatikan perubahan yang terjadi pada tubuh.

Sumber: Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).
Penulis:
Fotografer:
Editor:
Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page