Kondisi Geografis

LETAK DAN BATASAN ADMINISTRASI WILAYAH

Secara geografis Kota Pangkalpinang yang merupakan salah satu daerah otonomi di Pulau Bangka terletak pada posisi 106°4’BT sampai 106°7’BT dan 2°4’LS sampai 2°10’LS. Kota Pangkalpinang merupakan daerah yang strategis ditinjau dari sudut geografisnya mengingat posisinya sebagai ibukota provinsi Bangka Belitung yang memiliki berbagai fungsi sebagai pusat pengembangan pembangunan yang meliputi pusat pemerintahan, perdagangan dan industri, pelayanan sosial serta distribusi barang dan jasa.

Kota Pangkalpinang yang terletak pada bagian timur Pulau Bangka ini memiliki batasan administratif sebagai berikut :

  • Sebelah Utara : Desa Pagarawan, Kec. Merawang Kab. Bangka
  • Sebelah Selatan: Desa Dul, Kec. Pangkalan Baru Kab. Bangka Tengah
  • Sebelah Timur: Laut China Selatan
  • Sebelah Barat: Desa Air Duren, Kec. Mendo Barat Kab. Bangka.

 

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH KOTA PANGKALPINANG
Evaluasi capaian kinerja penyelenggaraan pemerintahan Kota Pangkalpinang dapat dilihat dari aspek geografi dan demografi; kesejahteraan masyarakat; pelayanan umum; dan daerah. Analisa aspek tersebut penting dilakukan dalam rangka memperoleh data dan informasi gambaran kondisi umum daerah dalam rangka mengidentifikasi sasaran prioritas yang belum tercapai, permasalahan yang harus diatasi, dan isu-isu penting yang harus segera diatasi.
2.1. Aspek Geografi dan Demografi
Gambaran umum kondisi Kota Pangkalpinang dilihat dari aspek geografi dan demografi mencakup beberapa indikator, diantaranya karakteristik lokasi dan wilayah administrasi, potensi pengembangan wilayah, wilayah rawan bencana, dan demografi, dengan penjelasan sebagai berikut:
2.1.1. Karakteristik Lokasi dan Wilayah Administrasi
Karakteristik lokasi dan wilayah administrasi Kota Pangkalpinang dilihat dari aspek luas dan batas wilayah administrasi, letak dan kondisi geografis, topografi, geologi, hidrologi, klimatologi dan data penggunaan lahan. Aspek tersebut menjadi penting karena dapat menjadi pertimbangan utama bagi pemerintah untuk menyusun rencana pengembangan wilayah dengan gambaran keterkaitan sebagai berikut:

Gambar 2.1. Keterkaitan Karakteristik Lokasi dan Wilayah Administrasi dengan Pengembangan Wilayah

2.1.1.1. Luas dan Batas Wilayah Administrasi
Kota Pangkalpinang adalah Ibukota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1984 memiliki luas wilayah 89,4 Km2, dengan batas-batas wilayah pada saat itu meliputi:
BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH KOTA PANGKALPINANG
PERUBAHAN RPJMD KOTA PANGKALPINANG TAHUN 2013-2018 II-2
 Sebelah utara berbatasan dengan Desa Selindung Lama Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka.
 Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Dul Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka.
 Sebelah timur berbatasan dengan Laut China Selatan.
 Sebelah barat berbatasan dengan Desa Air Duren Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka.
Seiring perkembangan pemerintahan dan bergabungnya Desa Selindung dengan Kota Pangkalpinang berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2007, maka luas wilayah Kota Pangkalpinang menjadi 118,4 Km2, dengan batas wilayah pemekaran meliputi:
 Sebelah utara berbatasan dengan Desa Pagarawan Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka.
 Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Dul Kecamatan Pangkalan Baru Kabupaten Bangka.
 Sebelah timur berbatasan dengan Laut China Selatan.
 Sebelah barat berbatasan dengan Desa Air Duren Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka.
2.1.1.2. Letak dan Kondisi Geografis
Kota Pangkalpinang terletak di tengah Pulau Bangka dan mempunyai posisi astronomis pada garis 106◦ 4′ sampai dengan 106◦ 7′ bujur timur dan garis 2◦ 4’ sampai dengan 2◦ 10’ lintang selatan. Secara geografis, sebelah timur berbatasan dengan Laut Cina Selatan dan merupakan jalur perairan keluar masuk barang dari pulau lain. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bangka Tengah. Sebelah utara dan barat berbatasan dengan Kabupaten Bangka. Posisi ini membentuk Kota Pangkalpinang berada di tengah-tengah Pulau Bangka dan menjadi pusat kegiatan lokal, pusat kegiatan kewilayahan, dan pusat pemerintahan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
2.1.1.3. Topografi
Kondisi topogafi wilayah Kota Pangkalpinang pada umumnya bergelombang dan berbukit, dengan ketinggian 20–50 m dari permukaan laut dan kemiringan 0–25 persen. Secara morfologi, daratan Kota Pangkalpinang berbentuk cekung dimana bagian pusat kota berada di daerah rendah. Daerah-daerah yang berbukit mengelompok di bagian barat dan selatan seperti Bukit Girimaya dan Bukit Menara.
2.1.1.4. Geologi
Struktur bebatuan di wilayah Kota Pangkalpinang mempunyai struktur utama berupa depresi lipatan geoantiklin. Dilihat dari proses pembentukannya dapat dibedakan dalam tiga jenis, yaitu (1) endapan permukaan yang membentuk struktur batuan alluvium (Qa); (2) batuan endapan (sedimen) yang membentuk struktur Formasi Tanjunggenting (TRt); dan (3) batuan malihan (metamorfosis) yang membentuk struktur Formasi Pemali Compleks (CPp).
Batuan alluvium (Qa) merupakan endapan permukaan berupa endapan/sedimen klastik atau endapan yang terbentuk oleh proses mekanik. Alluvium (Qa) merupakan endapan batuan klastik yang terjadi pada zaman/berumur Holosen. Endapan alluvial tersebut berupa bongkah, kerakal, kerikil, pasir, dan lumpur. Sebaran alluvial (Qa) terletak di dataran pantai dan dataran banjir sungai-sungai yang

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH KOTA PANGKALPINANG
PERUBAHAN RPJMD KOTA PANGKALPINANG TAHUN 2013-2018 II-3
menyebar hampir merata di Kecamatan Pangkalbalam, Kecamatan Rangkui, Kecamatan Taman Sari, Kecamatan Bukit Intan, dan Kecamatan Gerunggang.
Batuan endapan yang membentuk Formasi Tanjunggenting (TRt) merupakan batuan sedimen yang terbentuk dari hasil pemisahan atau penguraian batuan asal. Formasi Tanjunggenting (TRt) berupa batu pasir (sandstone) dan batu liat (shale), yang terbentuk karena pemisahan dan atau penguraian disebabkan oleh pengaruh fisik alam dan atau kimia alam. Tanjunggenting (TRt) berdasarkan tekstur dan komposisi mineralogisnya berupa sedimen klastik. Formasi ini merupakan punggung gunung/perbukitan bersisi terjal di atas endapan tufa, dan dataran endapan bertufa perbukitan, terletak di Kecamatan Pangkalbalam, Kecamatan Gerunggang, dan Kecamatan Bukit Intan.
Formasi Pemali Kompleks (CPp) merupakan batuan malihan (metamorfosis) yang terbentuk karena pengaruh tekanan besar (kuat) dan temperatur tinggi, sehingga batuan mengalami perubahan bentuk (pemalihan/metamorfosa). Formasi Pemali Kompleks (CPp) terletak perbukitan tidak teratur dan perbukitan berurutan dengan lembah sangat curam dan lereng sangat terjal di atas batu beku asam. Mineral timah yang sudah berbentuk remah ikut terbawa air sungai, yang sering ditambang oleh masyarakat. Formasi ini ada di Kecamatan Bukit Intan dan Kecamatan Rangkui.
2.1.1.5. Hidrologi
Wilayah Kota Pangkalpinang termasuk ke dalam bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) Batu Rusa. Kota Pangkalpinang juga memiliki beberapa sungai dimana pada umumnya terdiri dari sungai-sungai kecil yang bermuara ke Sungai Rangkui. Anak Sungai Rangkui merupakan kanal pengairan dari pintu air kolong Kacang Pedang ke Sungai Rangkui. Selain Sungai Rangkui terdapat juga Sungai Pedindang di bagian selatan, dimana kedua sungai ini berfungsi sebagai saluran utama pembuangan air hujan kota yang mengalir ke Sungai Baturusa dan berakhir di Laut Cina Selatan. Sungai-sungai ini selain berfungsi sebagai saluran utama pembuangan air hujan kota, juga berfungsi sebagai prasarana transportasi sungai dari pasar ke Sungai Baturusa dan terus ke laut.
Sumber air untuk air bersih pada umumnya berasal dari air tanah dan kolong. Kolong adalah danau yang terbentuk sebagai akibat dari penambangan timah di darat. Kolong yang ada di Kota Pangkalpinang diantaranya Kolong Kacang Pedang, Pedindang, Teluk Bayur, Bacang, Akit, Kepuh, Ijo, dan Aik Nangka.
Berdasarkan morfologinya, Kota Pangkalpinang berbentuk cekung dengan pusat kota yang berada di tengah-tengah. Hal ini memungkinkan terjadinya banjir setiap musim hujan di titik tertentu atau adanya pengaruh dari pasang surut air laut yang menyebabkan sebagian daerah tergenang air. Sedangkan daerah Timur yang berbatasan dengan Sungai Rangkui dengan Laut Cina Selatan dan bagian tengah kota yang dilalui oleh Sungai Rangkui sering tergenang oleh air pasang. Daerah yang tergenang tersebut terutama Kecamatan Rangkui, Pangkalbalam dan Tamansari. Adapun daerah yang tidak pernah tergenang adalah sebelah utara, barat, dan selatan Kota Pangkalpinang.
BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH KOTA PANGKALPINANG
PERUBAHAN RPJMD KOTA PANGKALPINANG TAHUN 2013-2018 II-4
Selain sungai, Kota Pangkalpinang juga terdiri dari daerah rawa-rawa. Rawa-rawa tersebut baik yang masih asli maupun yang sudah dialihfungsikan menjadi tambak atau kolam memiliki luas 2.049 hektar. Rawa tersebut berada di sepanjang Sungai Baturusa dan Selindung, bagian tengah dan hilir Sungai Rangkui, dan sepanjang Sungai Pasir Padi.
2.1.1.6. Klimatologi
Iklim daerah Kota Pangkalpinang tergolong tropis basah tipe A dengan rata-rata curah hujan 149,6 mm per bulan selama tahun 2012, dengan jumlah hari hujan rata-rata 17 hari setiap bulannya dimana bulan terkering jatuh pada bulan Juli.
Hawa di daerah ini dipengaruhi oleh laut, baik angin maupun kelembabannya. Suhu udara selama tahun 2012 bervariasi antara 24,0◦ C sampai dengan 34◦ C, sedangkan kelembabannya berkisar antara 66,0 sampai 83,6 persen.
Angin bergerak setiap hari dengan arah dari Timur pada siang hari dan dari Barat pada malam hari. Rata-rata kecepatan angin cukup bervariasi setiap bulannya misalnya 2,4 knot pada bulan April, sementara bulan Juni 4,4 knot, dan yang terendah tercatat pada Maret (bulan terbasah) yaitu sebesar 2,0 knot.